10 Negara dengan Upah Pekerja Termurah di Dunia
Pengusaha tentu tak sembarangan ketika memutuskan untuk menanamkan pundi uang untuk berinvestasi. Apalagi jika itu dilakukan di negara lain.
Banyak faktor jadi pertimbangan. Mulai dari ketersediaan lahan, proses pengajuan investasi, sumber bahan baku bahkan tingkat korupsi pun harus masuk dalam hitungan.
Sangat penting tentu tenaga kerja. Pengusaha akan memastikan ada tenaga kerja yang cukup tersedia serta memiliki pendidikan yang cukup untuk menunjang produksi perusahaan.
Tidak banyak masalah jika hanya akan melibatkan lini produksi manufaktur sederhana, tetapi sumber daya manusia ini mencakup jasa di bidang akuntansi, teknologi yang memang memerlukan tingkatpencapaian pendidikan layak.
Masalah penting lain, seberapa besar upah atau gaji yang harus diberikan ke pekerja tersebut. Mengingat kisruh upah kerap terjadi di berbagai negara. Belum lagi, setiap tahun ada tuntutan kenaikan mengikuti pembengkakan kebutuhan yang tak bisa tertawar lagi.
Tak heran, negara yang menawarkan investasi dengan tenaga kerja murah biasanya menjadi incaran para investor. Selain upah, tenaga kerja mahal juga berisiko pada biaya pengeluaran pelatihan.
Berikut 10 negara yang memberikan upah pekerja termurah seperti melansir laman Therichest.com, Rabu (22/5/2013):
1. Madagaskar - US$ 0,18 atau setara Rp 1.746 per jam
Berdasarkan bayaran per jam, Madagaskar memiliki nilai tenaga kerja paling murah. Namun korupsi di negara ini sudah jadi hal yang wajar, tapi tak lebih buruk dibandingkan negara-negara serupa. Peringkat korupsinya berada di level tengah.
Kelebihan Madagaskar, negara ini mampu menyediakan tenaga jasa informasi teknologi (IT) dan akuntansi. Produksi manufaktur pakaian dan garmen lain juga dilakukan di negara ini.
2. Bangladesh - US$ 0,23 atau setara Rp 2.245 per jam
Bangladesh sebenarnya memiliki lulusan sarjana yang cukup besar jumlahnya. Kendati masih memerlukan dorongan penyerapannya.
Negara ini juga tempat yang cukup bagus dengan persyaratan kerja sederhana di bidang IT. Fasilitas produksi juga tersedia di dalam negeri.
Namun begitu, para investor harus fokus pada beberapa faktor. Banyak pekerja di bawah umur bekerja di pabrik-pabrik. Negara ini juga salah satu negara dengan birokrasi paling kacau. Banjir juga seringkali mengganggu operasi kerja.
3. Pakistan - US$ 0,32 atau setara Rp 3.124 per jam
Sama seperti India, Pakistan memiliki populasi yang fasih berbahasa Inggris. Kemampuan ini bisa jadi sumber yang bagus untuk layanan call center atau IT seperti rancangan software dan pengembangan web. Proses bisnis juga bisa dilakukan di sini.
Tapi, masih sama seperti India, peraturan hukum adalah persoalan. Ditambah lagi ancaman teroris, karena negara ini ada di jajaran depan memerangi terorisme.
4. Ghana – US$ 0,32 atau setara Rp 3.124 per jam
Ghana memiliki populasi yang agak fasih berbahasa Inggris. Hal itu membuat negara ini menjadi tujuan bagus untuk memulai usaha call centers.
Para investor harus memeriksa level pendidikan tenaga kerja berikut infrastruktur komunikasi untuk keberhasilan usahanya. Pendidikan masih menjadi penghambat meningkatnya jasa teknologi.
5. Vietnam – US$ 0,39 atau setara Rp 3.808 per jam
Walaupun masih resmi sebagai negara komunis, pintu Vietnam terbuka lebar untuk bisnis lewat rangkaian reformasi ekonomi dan politik.
Negara ini kebanyakan bergerak di bidang layanan teknologi informasi, khususnya di bidang softwaredesain dan kreasi pengembangan game digital.
Sayang, jumlah kejahatan masih menjadi masalah, tapi bukan kondisi yang paling buruk dibanding negara-negara lain.
6. India – US$ 0,48 atau setara Rp 4.686 per jam
India adalah tujuan utama untuk kegiatan outsourcing karena kemampuan masyarakatnya berbicara bahasa Inggris dan jumlah lulusan teknik komputer yang signifikan. Call centers dan program softwaredikembangkan di negara ini.
Dengan lebih dari 1 miliar penduduk dan kebanyakan tinggal dalam kemiskinan, ini menjadi negara penghasil tenaga kerja murah di bidang manufaktur tekstil. Kemacetan sangat parah di beberapa daerah. Peraturan hukum juga memprihatinkan.
7. Kenya – US$ 0,50 atau setara Rp 4.882 per jam
Kenya menawarkan karyawan murah di bidang call centers. Catat, birokrasi Kenya paling kacau dan level korupsinya tinggi di beberapa tahun terakhir. Masyarakatnya bicara bahasa Inggris sangat lancar karena negara ini pernah dijajah Inggris.
8. Senegal – US$ 0,52 atau setara Rp 5.077 per jam
Senegal menawarkan harga tenaga kerja murah dan ideal untuk sektor infrastruktur teknologi informasi sebagai call centers. Tentu saja masalahnya adalah bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-sehari. Jadi investasinya terbatas pada perusahaan-perusahaan Perancis.
9. Sri Lanka – US$ 0,62 atau setara Rp 6.053 per jam
Sri Lanka memiliki jumlah tenaga kerja yang banyak dan mampu bicara bahasa Inggris dengan lancar. Ini memudahkan untuk masuknya usaha call centers dan proses bisnis dan akuntansi.
Kebanyakan tenaga kerja datang dari bekas jajahan Inggris. Manfaatnya, negara ini satu-satunya di Asia dengan indeks pengembangan tenaga kerja yang tinggi.
10. Yunani – US$ 0,80 atau setara Rp 7.810 per jam
Dengan populasi lebih dari 80 juta, keuntungan Yunani tak jauh dari Eropa yang membuatnya menjadi tujuan manufaktur garmen Eropa.
Ini juga bisa dimanfaatkan untuk bisnis call centers dan layanan teknologi informasi lain. Namun stabilitas politik dan para ekstrimis agama bisa jadi persoalan di negara ini. (Nur)
Sumber : Liputan6.com